JAKARTA — Institut Teknologi PLN (ITPLN) menggelar workshop dan coaching clinic pengembangan kualitas karir dosen melalui publikasi karya ilmiah, Senin, 25 Mei 2206. Kegiatan ini menjadi upaya kampus dalam meningkatkan kemampuan dosen menulis artikel ilmiah agar mampu menembus jurnal nasional terakreditasi hingga jurnal internasional bereputasi.
Wakil Rektor II Bidang Sumber Daya ITPLN, Heryawan mengatakan, kegiatan tersebut dirancang untuk memperkuat kapasitas akademik para dosen, khususnya dalam bidang penelitian dan publikasi ilmiah.
“Penulisan artikel ilmiah menjadi penting. Bagaimana metode dan tekniknya, nanti akan dipaparkan langsung oleh ahlinya. Kami berharap bapak dan ibu dosen dapat memanfaatkan kesempatan ini semaksimal mungkin agar mampu menghasilkan artikel yang lolos ke jurnal terakreditasi nasional maupun bereputasi internasional,” ujar Heryawan di Kampus ITPLN, Senin, 25 Mei 2026.
Ia menegaskan, peningkatan kualitas publikasi dosen akan berdampak langsung terhadap penguatan reputasi institusi. Karena itu, pihaknya memberi dukungan penuh terhadap pengembangan kompetensi akademik di lingkungan kampus.
“Saya sangat konsen pada pengembangan sumber daya dosen. Harapannya, ketika dosennya maju, institusi juga ikut tumbuh menjadi lebih baik,” katanya.
Dalam kesempatan itu, Guru Besar Universitas Negeri Malang, Prof. Aji Prasetya Wibawa, S.T., M.M.T., Ph.D. hadir sebagai pembicara utama. Ia membagikan pengalaman pribadi sekaligus mengingatkan para akademisi mengenai bahaya jurnal predator dalam dunia publikasi ilmiah.
Prof. Aji mengaku pernah terseret dalam publikasi jurnal predator saat menempuh studi doktoral di Australia. Pengalaman tersebut bahkan membuat dirinya dipanggil pihak kampus karena artikel yang diterbitkan dianggap bermasalah.
“Saya pernah masuk jurnal predator. Waktu itu saya hanya fokus menulis, sedangkan publikasinya diurus promotor. Akhirnya saya dipanggil dan diminta menjelaskan,” ungkapnya.
Menurut Prof. Aji, kegagalan publikasi ilmiah di Indonesia bukan semata soal kemampuan intelektual, melainkan pola pikir dan manajemen riset yang belum terbangun secara matang. Banyak dosen, kata dia, masih terjebak ketakutan terhadap reviewer, perfeksionisme berlebihan, hingga tidak memiliki roadmap penelitian yang jelas.
“Reviewer itu bukan musuh. Mereka menjaga mutu akademik. Banyak dosen gagal karena riset hanya dilakukan saat ada hibah, sementara data menumpuk tanpa diselesaikan,” imbuhnya.
Ia juga menyoroti maraknya praktik tidak etis dalam dunia akademik, seperti plagiarisme, manipulasi data, hingga praktik titip nama dalam kepenulisan ilmiah. Menurutnya, kompromi terhadap integritas akademik dapat merusak reputasi pribadi maupun institusi.
Sebagai langkah strategis, Prof. Aji mendorong dosen untuk memiliki target akademik tahunan yang terukur, mulai dari memenangkan hibah penelitian, menerbitkan artikel ilmiah bereputasi, hingga membangun jejaring kolaborasi riset.
“Karir akademik bukan soal siapa paling pintar, tetapi siapa yang paling konsisten berkontribusi. Dosen hebat adalah mereka yang terus berkarya dan meninggalkan jejak kebaikan bagi masyarakat,” tuturnya.***