JAKARTA – PT PLN (Persero) meresmikan Klinik Lisna Syifa Prima di sejumlah lokasi, termasuk di lingkungan kampus Institut Teknologi PLN (ITPLN). Pembangunan klinik kesehatan ini menjadi bagian dari komitmen PT PLN (Persero) dalam meningkatkan kesejahteraan pegawai hingga masa purnatugas.
Direktur Legal and Human Capital (LHC) PLN, Yusuf Didi Setiarto mengatakan, pembangunan klinik ini muncul dari sebuah diskusi PLN, YPK dan Dana Pensiun. Hasil diskusi itu, ungkapnya, dieksekusi hingga Klinik Lisna Syifa Prima ada di sejumlah wilayah, seperti di Pamulang, Palembang, Ambon, Bali, Minahasa, Balikpapan hingga Duri Kosambi.
“Ini adalah hasil diskusi. Tidak hanya sekedar omongan dan dituangkan di atas kertas, tapi kita eksekusi. Kita punya namanya anchor backup, yaitu pensiunan dan pegawai PLN group di seluruh republik ini, termasuk para pendukung kita, tenaga alih daya. Betapa besarnya kapasitas basic kita,” ujar Didi di Pamulang, Tangerang Selatan, Kamis, 18 Desember 2025.
Didi menyebut kesamaan frekuensi antara direksi PLN, pengurus YPK, dan pelaksana menjadi faktor eksekusi lapangan. Menurutnya, keberadaan klinik sejalan dengan penguatan kapasitas sumber daya manusia PLN group serta bisa bermanfaat untuk masyarakat umum, termasuk mahasiswa ITPLN.
“Terimakasih pak ketum, pak Pandi dan juga dana pensiun yang sudah mendukung untuk membangun secara progresif pengembangan dari Klinik Lisna ini ke depan,” katanya.
Dalam kesempatan itu, Didi juga mengungkapkan rencana korporasi dalam meningkatkan kesejahteraan pegawai termasuk pensiunan. Tahun ini, tegasnya, manfaat pensiun bagi pegawai PLN yang memasuki purnatugas akan menerima 13,5 kali lipat. Namun, Didi menargetkan manfaat pensiun itu akan mencapai 18 kali lipat.
Di lokasi yang sama, Ketua Umum Yayasan Pendidikan dan Kesejahteraan (YPK) PLN, Supriyadi mengatakan, keberadaan Klinik Lisna Syifa Prima merupakan ekspansi layanan kesehatan yang menjadi tantangan membahagiakan karena mampu melampaui target yang sebelumnya dirancang dalam Rencana Kerja dan Program (RKP).
“Ada target di luar rencana yang menantang, dan kami ikut bahagia di sini. Pak Pandi menyambut tantangan itu — kami ucapkan terima kasih,” kata Supriyadi.
Ia juga menegaskan penyatuan brand layanan kesehatan Lisna yang sebelumnya terpecah dua—Lisna YPK dan Lisna untuk pensiunan—menjadi satu identitas nasional.
“Untuk se-Indonesia sudah menjadi satu. PLN maupun Bapak-Ibu tidak perlu bingung, semuanya masuk ke Lisna kita bersama,” ucapnya.
Tahun depan, tegasnya, Klinik Lisna akan menambah 22 outlet layanan kesehatan baru. Ekspansi itu, kata dia, akan mendongkrak pelayanan sekaligus nilai bisnis.
“Tahun depan akan bisa mencapai sekitar 300-an miliar. Maka bantuan hari raya kepada pensiunan akan dua kali lipat dari tahun lalu — menjadi Rp500 ribu per pensiunan,” imbuhnya.
Meski demikian, dia menegaskan YPK tidak mengejar laba, melainkan kesejahteraan. Sehingga, setiap pemasukan anak-anak perusahaan di bawah YPK kami kembalikan untuk kesejahteraan anggota.
Tujuh Klinik Baru Beroperasi
Direktur Utama Klinik Lisna Syifa Prima, Pandi, memaparkan tujuh klinik yang mulai aktif sepanjang 2024–2025, yakni di Pamulang, Palembang, Ambon, Balikpapan, Minahasa, Bali hingga Duri Kosambi yang terletak di kampus ITPLN.
“Sampai bulan kemarin, pendapatan PT Lisna Syifa Prima mencapai Rp155 miliar, dibandingkan Rp116 miliar tahun lalu. Insya Allah di akhir tahun bisa menembus Rp173 miliar, atau naik sekitar 49 persen,” katanya.
Lisna menargetkan 250 ribu kunjungan pasien sepanjang 2025, serta komitmen layanan yang lebih luas pada 2026. “Tujuan kami jelas: pelayanan lebih baik bagi pegawai dan pensiunan PLN,” tandasnya.***