Tembus Sungai 7 Jam dengan Perahu Rakyat, ITPLN Antar Bantuan ke Aceh Terisolir

  • Comments: 0
  • Posted by: Humas

ACEH – Tim Aksi Peduli Institut Teknologi PLN (ITPLN) menyalurkan bantuan kemanusiaan ke wilayah terisolir di Aceh. Aksi ini dilakukan menyusul bencana besar yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat—yang disebut-sebut sebagai musibah terbesar setelah tsunami.

Bantuan disalurkan melalui jalur sungai dari kawasan Kutablang, Kabupaten Bireuen, Aceh melalui perahu rakyat. Medan yang sulit membuat perjalanan distribusi memakan waktu hingga enam sampai tujuh jam.

Kepala Rektorat ITPLN, Purnomo, mengatakan donasi yang terkumpul sebesar Rp77 juta ini merupakan wujud solidaritas sivitas akademika ITPLN, baik dosen, tenaga kependidikan hingga mahasiswa terhadap korban bencana di tiga provinsi tersebut.

“Untuk Aceh sudah kami kirimkan Rp50 juta dan masih tersisa sekitar Rp20 juta. Rencananya Rp7 juta akan kami salurkan ke Sumatera Barat dan Sumatera Utara. Donasi masih terus kami buka,” ujar Purnomo saat berbincang, Rabu, 17 Desember 2025.

Menurut Purnomo, kondisi di lapangan sangat memprihatinkan. Sejumlah wilayah masih terputus aksesnya, bahkan listrik di beberapa daerah belum sepenuhnya pulih.

“Kalau kita lihat dari siaran televisi nasional dan media sosial, kejadiannya luar biasa. Ini mungkin yang terbesar setelah tsunami. Sampai hari ini masih ada wilayah yang belum normal,” katanya.

Penyaluran bantuan di Aceh dipercayakan kepada Dekan Fakultas Teknologi Infrastruktur dan Kewilayahan ITPLN, Kemala Hayati yang merupakan putra Aceh. Sejak pekan lalu, Kemala berada langsung di lokasi bencana untuk membelanjakan langsung kebutuhan para pengungsi.

Kemala harus menempuh perjalanan panjang mulai darat yang tertutup lumpur hingga menyusuri sungai demi mencapai daerah terdampak. Bantuan yang terkumpul didistribusikan ke sejumlah daerah, seperti kawasan Bireun, Paloh Raya, Berandang, Alue ie Puteh, Matang Kumbang, Matang Bayu, Blang Nibong, Matang Sijuek Barat, Syamtalira Bayu, hingga Lhokseumawe dan Langkahan.

“Perjalanan menuju lokasi distribusi membutuhkan waktu enam sampai tujuh jam lewat jalur sungai. Ini perjuangan besar, tapi harus dilakukan agar bantuan sampai,” kata Kemala.

Sementara itu, bantuan untuk Sumatera Barat akan dititipkan melalui jejaring sivitas ITPLN yang berada di Padang. Adapun di Sumatera Utara, distribusi direncanakan melalui kolaborasi dengan pegawai PLN setempat.

Diakuinya, tim ITPLN turut serta ke lokasi bencana bersama sejumlah relawan lainnya dari seluruh Indonesia.

ITPLN mengapresiasi seluruh pihak yang telah berdonasi dan mengajak masyarakat yang belum berpartisipasi untuk turut membantu korban bencana.

“Kami ucapkan terima kasih kepada Bapak dan Ibu sekalian yang telah berdonasi. Bagi yang belum, kami masih membuka kesempatan untuk bersama-sama membantu saudara-saudara kita yang membutuhkan,” katanya.

Diketahui, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) merilis total korban meninggal dunia akibat bencana banjir dan longsor (bansor) di tiga provinsi, Aceh, Sumatra Utara dan Sumatra Barat, mencapai 1.016 jiwa. Dari data Pos Pendamping Nasionnal atau Pospenas, tercatat korban meninggal tertinggi terjadi di Provinsi Aceh dengan jumlah 424 jiwa, Sedangkan Sumatra Utara mencapai 349 jiwa dan Sumatra Barat 243 jiwa.

Sedangkan total jumlah korban hilang mencapai 212 jiwa dengan rincian di wilayah Aceh 32 jiwa, Sumatra Utara 90 jiwa dan Sumatra Barat 90 jiwa. Dari catatan itu, ada total 624.670 jiwa yang mengungsi di sejumlah titik pengungsian.

Pemerintah bersama sejumlah pemangku kepentingan terus bekerja sama untuk membantu dalam penanganan darurat dan pemulihan masyarakat terdampak.***

Author: Humas