JAWA TIMUR– Rektor Institut Teknologi PLN (ITPLN), Prof. Iwa Garniwa menegaskan pesantren memiliki peran strategis dalam mendorong transformasi energi nasional. Di tengah meningkatnya kebutuhan energi dan ketergantungan Indonesia pada energi fosil, pesantren dinilai mampu menjadi pusat pembentukan kesadaran energi, kepedulian lingkungan, sekaligus agen perubahan di tingkat akar rumput.
Hal itu disampaikan Iwa dalam rekaman video Talkshow Bersama Pesantren dan Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor serta PLN UID Jawa Timur yang mengangkat tema Peran Pesantren dalam Transformasi Energi Nasional di Ponorogo, Jawa Timur, Selasa, 23 Desember 2025.
“Transformasi energi bukan lagi pilihan, tetapi keharusan. Namun, ini tidak cukup dimaknai sebagai penggantian teknologi semata. Ia menuntut perubahan cara berpikir, bersikap, dan bertindak, dengan melibatkan seluruh elemen bangsa, termasuk pesantren,” ujar Iwa, Selasa, 23 Desember 2025.
Menurut dia, tantangan perubahan iklim dan persoalan lingkungan energi semakin nyata. Karena itu, transformasi energi harus dibangun di atas nilai, etika, dan keteladanan sosial. Di sinilah pesantren memiliki keunggulan.
“Pesantren bukan hanya pusat pendidikan keagamaan, tetapi pusat pembentuk karakter dan nilai. Dengan jumlah pesantren dan santri yang sangat besar, modal sosial dan moral ini sangat penting untuk menumbuhkan kesadaran energi dan tanggung jawab terhadap masa depan bangsa,” katanya.
Rektor ITPLN juga menyoroti persoalan sampah yang kini telah berkembang menjadi isu lingkungan, kesehatan, hingga energi. Ia menyebut konsep waste to energy sebagai solusi yang relevan, termasuk untuk diterapkan di lingkungan pesantren.
“Waste to energy mengubah sampah yang semula menjadi beban menjadi sumber energi. Sampah organik bisa diolah menjadi biogas, limbah domestik dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan energi sekaligus mengurangi dampak lingkungan,” katanya.

Ia menjelaskan, aktivitas harian pesantren menghasilkan limbah organik dalam jumlah cukup besar. Jika dikelola dengan baik, limbah tersebut dapat dimanfaatkan untuk memenuhi sebagian kebutuhan energi pesantren, seperti untuk dapur, penerangan, hingga fasilitas pendukung lainnya.
Lebih dari sekadar hasil energi, penerapan waste to energy di pesantren dinilai memiliki nilai pendidikan yang kuat. “Santri bisa belajar langsung tentang kemandirian energi, tanggung jawab lingkungan, dan inovasi yang berpijak pada nilai-nilai keislaman. Di sini iman, ilmu, dan amal berjalan bersama,” kata dia.
Dalam konteks transformasi energi nasional, Rektor ITPLN menekankan pentingnya kolaborasi antara pesantren, perguruan tinggi, industri, dan pemerintah. Perguruan tinggi berperan menyiapkan sumber daya manusia unggul, mengembangkan riset terapan, serta mendampingi implementasi teknologi di masyarakat.
“Saya meyakini santri tidak hanya akan menjadi pengguna energi. Mereka bisa menjadi agen literasi energi, inovator di tingkat lokal, bahkan pemimpin masa depan di sektor energi bersih,” imbuhnya.
Ia menutup dengan optimisme bahwa transformasi energi nasional merupakan perjalanan panjang yang membutuhkan kesabaran, konsistensi, dan kebersamaan.
“Dengan kekuatan moral pesantren, dukungan ilmu pengetahuan, dan sinergi seluruh pemangku kepentingan, Indonesia mampu mewujudkan sistem energi yang mandiri, berkelanjutan, dan berkeadilan,” katanya.***