ITPLN Terapkan Smart Integrated Farming di Kampung, Petani Cianjur Raup Untung

  • Comments: 0
  • Posted by: Humas

JAWA BARAT — Teknologi energi surya mulai mengubah wajah pertanian di pedesaan. Institut Teknologi PLN (ITPLN) menerapkan smart integrated farming untuk mendukung pengolahan hasil pertanian dan perikanan di Kampung Gadog, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, pada Senin, 26 Januari 2026 kemarin.

Program tersebut merupakan bagian dari Tri Dharma Perguruan Tinggi yang dijalankan tim Fakultas Ketenagalistrikan dan Energi Terbarukan (FKET) ITPLN melalui program pengabdian kepada masyarakat (PkM) dengan mengoptimasi Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS).

PkM FKET ITPLN kali ini bertajuk “Pengembangan Smart Integrated Farming Berkelanjutan: Penerapan PLTS untuk Solar Dryer Dome, Hidroponik, dan Budidaya Ikan”. Teknologi yang diterapkan meliputi Solar Dryer Dome (SDD), sistem hidroponik, serta budidaya ikan nila berbasis aquaponik.

Ketua tim pengabdian, Ersalia Dewi Nursita, mengatakan seluruh sistem dirancang terintegrasi dan berbasis energi surya. Panel PLTS digunakan untuk mengoperasikan Solar Dryer Dome guna mempercepat pengeringan hasil pertanian, terutama rempah-rempah, serta menggerakkan pompa air otomatis pada kolam ikan nila.

“Energi matahari dimanfaatkan untuk dua fungsi utama, yakni mendukung proses pascapanen melalui Solar Dryer Dome dan menggerakkan sistem budidaya ikan. Air kolam ikan yang kaya nutrisi kemudian dialirkan ke instalasi hidroponik sebagai sumber mineral tanaman,” ujar Ersalia saat berbincang, Jum’at, 30 Januari 2026.

Menurut dia, integrasi tersebut membuat sistem pertanian lebih efisien, hemat biaya listrik, dan menghasilkan produk yang lebih sehat karena minim penggunaan pestisida kimia.

Manfaat teknologi ini dirasakan langsung oleh warga. Harun, warga Kampung Gadog, menyebut Solar Dryer Dome menjadi solusi atas kendala pengeringan hasil panen yang selama ini bergantung pada cuaca.

“Selama ini banyak warga menjual rempah dalam bentuk glondongan karena butuh uang cepat, padahal harganya rendah. Kalau dikeringkan manual butuh waktu lama. Dengan solar dryer dome, prosesnya lebih cepat dan nilai jual naik,” katanya.

Ia mencontohkan, 100 kilogram pala glondongan yang sebelumnya hanya bernilai Rp100.000–Rp200.000, setelah dikeringkan dapat menghasilkan sekitar Rp700.000 dari biji pala, daging pala, dan bunga pala. Ke depan, warga juga menargetkan pengembangan alat destilasi untuk memproduksi minyak atsiri dengan nilai jual Rp800.000–Rp900.000 per liter.

Selain pengolahan rempah, sistem aquaponik juga memberi dampak ekonomi dan edukasi. Warga dapat memanen ikan nila dan sayuran organik secara bersamaan dengan biaya produksi yang lebih rendah.

Program ini turut mendorong penguatan kelompok usaha tani “Tunas Mandiri” yang bergerak di bidang pertanian aquaponik. Sayuran kangkung yang sebelumnya dijual ke tengkulak seharga Rp500 per ikat kini dapat dipasarkan sebagai kangkung organik dengan harga hingga Rp3.000 per ikat ke pengepul yang memasok supermarket dan restoran.

Kegiatan pengabdian ini dilaksanakan oleh tim dosen ITPLN yang terdiri dari Ersalia Dewi Nursita, Ginas Alvianingsih, Dwi Anggaini, dan Muhammad. Melalui program tersebut, ITPLN menegaskan komitmennya menghadirkan inovasi energi terbarukan yang tidak hanya ramah lingkungan, tetapi juga mendorong kemandirian dan peningkatan kesejahteraan ekonomi masyarakat pedesaan.***

Author: Humas