PURWAKARTA – Mahasiswa Program Studi S1 Teknik Industri Institut Teknologi PLN (ITPLN) menggelar kegiatan kunjungan industri ke dua fasilitas strategis di Jawa Barat. Mereka mendatangi PT PLN Nusantara Power UP Cirata—yang mengoperasikan PLTA dan PLTS Cirata di Purwakarta—serta PT Multi Nitrotama Kimia di Cikampek, Rabu, 17 Desember 2025 kemarin. Kegiatan ini menjadi bagian dari skema pembelajaran 4-4-2 yang menyatukan teori dan praktik di lapangan.
Di Cirata, rombongan mahasiswa dipaparkan langsung terkait pemanfaatan energi baru terbarukan yang terus didorong pemerintah. Mereka mempelajari operasi pembangkit listrik tenaga air serta sistem PLTS terapung Cirata yang diklaim sebagai salah satu terbesar di Asia Tenggara. Sorotan utamanya: bagaimana transisi energi rendah karbon diterapkan secara teknis di instalasi pembangkit.
Kepala Program Studi Teknik Industri ITPLN, Utami Wahyuningsih menegaskan bahwa kunjungan ini merupakan ruang belajar faktual yang tidak bisa digantikan kelas tatap muka.
“Transisi energi tidak berhenti pada slogan. Mahasiswa harus melihat infrastruktur nyata, memahami prosesnya, lalu mengukur tantangannya,” ujar Utami saat berbincang, Jum’at, 19 Desember 2025.
Menurutnya, pemahaman energi bersih kini menjadi kompetensi wajib bagi calon insinyur industri. Ia menyebut, sektor energi dan manufaktur membutuhkan SDM yang mampu membaca dinamika suplai energi rendah karbon.
“Kita menyiapkan lulusan yang siap menjawab roadmap dekarbonisasi. Industri butuh mereka sekarang, bukan lima tahun lagi,” katanya.
Selesai dari Cirata, mahasiswa ITPLN bergerak menuju PT Multi Nitrotama Kimia di Cikampek. Di fasilitas produksi bahan kimia industri itu, mahasiswa dikenalkan pada manajemen rantai pasok—mulai pemilihan pemasok bahan baku, pengelolaan distribusi, hingga akurasi permintaan pasar. Aspek efisiensi dan keselamatan kerja menjadi materi inti yang diperlihatkan langsung.
Bagi mahasiswa, kunjungan ini menjadi kesempatan untuk menguji teori rantai pasok yang selama ini dipelajari. Mereka melihat bagaimana mitigasi risiko dilakukan untuk mengurangi potensi bahaya proses kimia sekaligus memelihara standar lingkungan. Strategi ini dinilai penting karena menyentuh isu keberlanjutan industri.
Dia menilai kemampuan analitis dan kepekaan terhadap efisiensi proses menjadi bekal utama lulusan Teknik Industri.
“Supply chain bukan hanya soal distribusi barang, melainkan pengambilan keputusan berbasis data dan risiko. Melihatnya langsung di industri akan membentuk intuisi manajerial,” ucapnya.
Ia berharap kunjungan industri semacam ini memperluas wawasan profesional mahasiswa, terutama pada sektor energi dan kimia yang sedang bertransformasi.
“Kami ingin mahasiswa menghubungkan teori transisi energi dengan operasi pabrik, lalu membaca peluangnya. Di situlah nilai strategis kegiatan ini,” katanya.***
