Lulusan ITPLN Siap Hadapi Tantangan Energi Masa Depan, dari Dekarbonisasi hingga Digitalisasi

  • Comments: 0
  • Posted by: Humas

JAKARTA – Institut Teknologi PLN (ITPLN) memastikan akan terus menyiapkan lulusan agar bisa berdaya saing unggul dalam menghadapi tantangan energi masa depan. Hal ini diungkapkan Wakil Rektor III ITPLN, Purnomo, ST., MT saat membuka Expert Talk bertema “Dekarbonisasi dan Manajemen Energi Berkelanjutan untuk Generasi Masa Depan” yang menghadirkan Direktur Utama PT PLN Energi Manajemen Indonesia (PLN EMI), Henri Firdaus, sebagai pembicara utama.

Menurutnya, tema dekarbonisasi dan keberlanjutan sangat relevan dengan visi ITPLN dalam mencetak sumber daya manusia yang unggul di bidang energi, teknologi, dan keberlanjutan.

“ITPLN memiliki visi untuk mencetak SDM yang memahami dan mampu menjawab tantangan di bidang energi, teknologi, dan keberlanjutan. Saat ini, isu energi dan keberlanjutan menjadi tren yang dibicarakan di seluruh dunia, sehingga tema yang kita angkat hari ini sangat tepat,” ujar Purnomo di Jakarta, Selasa, 23 Juni 2026.

Menurut dia, isu energi kini tidak hanya menjadi pembahasan di sektor industri, tetapi juga telah menjadi bagian dari dinamika geopolitik global. Di tingkat nasional, tantangan pasokan energi juga masih menjadi perhatian, termasuk ketergantungan terhadap batu bara yang suatu saat akan habis.

Purnomo menjelaskan bahwa masa depan sektor energi akan diwarnai oleh tiga tren utama, yakni dekarbonisasi, digitalisasi, dan desentralisasi. Karena itu, mahasiswa perlu mempersiapkan diri untuk mengambil berbagai peluang yang muncul dari transformasi tersebut.

Ia mendorong mahasiswa memanfaatkan kesempatan berdialog langsung dengan praktisi industri untuk memahami kompetensi yang dibutuhkan dunia kerja, baik dari sisi akademik maupun non-akademik.

“Manfaatkan kesempatan ini untuk bertanya sebanyak-banyaknya. Pahami kebutuhan industri, ilmu yang harus dipersiapkan, hingga pengalaman bekerja di sektor energi. Ini menjadi bekal penting bagi masa depan kalian,” ungkapnya.

Purnomo berharap kegiatan tersebut dapat menjadi ruang pembelajaran yang mendorong lahirnya inovasi demi mewujudkan energi hijau dan pembangunan berkelanjutan.

Sementara itu, Direktur Utama PLN EMI, Henri Firdaus, menegaskan bahwa upaya penurunan emisi karbon harus dilakukan melalui berbagai pendekatan, salah satunya dengan mempercepat pemanfaatan energi baru terbarukan (EBT).

“Kita harus menurunkan emisi dengan berbagai cara. Salah satu yang paling mudah adalah menambah pembangkit dari energi terbarukan. Transisi energi tidak hanya dilakukan oleh pemerintah, tetapi juga bisa dimulai dari individu, komunitas, organisasi, hingga kampus,” kata Henri.

Menurut Henri, perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam mendukung agenda transisi energi melalui pengembangan konsep green campus dan budaya keberlanjutan di lingkungan akademik.

Ia menjelaskan bahwa dekarbonisasi merupakan upaya sistematis untuk mengurangi emisi karbon dioksida (CO2), polutan, dan gas rumah kaca dari berbagai aktivitas manusia. Langkah paling mendasar dalam proses tersebut adalah mengurangi emisi langsung dari sumbernya.

“Dekarbonisasi pada dasarnya adalah pengurangan emisi secara sistematis dari seluruh aktivitas. Pengurangan emisi dari sumber menjadi langkah pertama yang harus dilakukan,” katanya.

Henri yang juga alumni ITPLN itu juga mengajak mahasiswa untuk mulai menerapkan gaya hidup rendah karbon, termasuk dengan memanfaatkan teknologi ramah lingkungan seperti kendaraan listrik.

Pada kesempatan yang sama, Dekan Fakultas Ketenagalistrikan dan Energi Terbarukan (FKET) ITPLN, Dr. Rummi Sirait, mengatakan kehadiran Dirut PLN EMI memberikan kesempatan berharga bagi mahasiswa untuk belajar langsung dari praktisi yang telah sukses di industri energi.

Menurut Rummi, ITPLN tidak hanya berfokus menghasilkan lulusan yang unggul secara teknis, tetapi juga terus menanamkan kesadaran terhadap isu lingkungan dan keberlanjutan.

“Mahasiswa merupakan calon pemimpin masa depan yang nantinya akan berperan di sektor energi. Karena itu, pemahaman mengenai dekarbonisasi dan manajemen energi berkelanjutan menjadi sangat penting,” kata Rummi.

Ia menilai tema seminar tersebut selaras dengan kebutuhan dunia industri sekaligus memperkuat materi yang telah diperoleh mahasiswa di ruang perkuliahan. Rummi berharap kegiatan itu mampu memperluas wawasan mahasiswa serta meningkatkan pemahaman mengenai transisi energi dan pengelolaan energi berkelanjutan.

“Semoga seminar ini memberikan pengetahuan yang besar bagi kita semua, menambah wawasan, serta memperkuat pemahaman terkait dekarbonisasi dan manajemen energi berkelanjutan,” tegasnya.

Author: Humas