JAKARTA – Institut Teknologi PLN (ITPLN) resmi meluncurkan budaya baru bertajuk ENERGI+ sebagai pijakan transformasi institusi menuju perguruan tinggi berkelas internasional. Grand launching budaya baru tersebut ditandai dengan cetak telapak tangan berwarna-warni para pimpinan ITPLN sebagai simbol komitmen bersama membangun budaya organisasi yang adaptif, unggul, dan berkelanjutan.
Peluncuran berlangsung saat puncak acara Dies Natalis ke-28 ITPLN yang dihadiri jajaran pimpinan, sivitas akademika, serta tamu undangan. Momen simbolis itu diawali dengan para pimpinan mengangkat telapak tangan yang telah diberi warna berbeda sebelum membubuhkannya pada kanvas putih sebagai penanda dimulainya transformasi budaya baru ENERGI+ ITPLN.
Rektor ITPLN, Prof. Dr. Ir. Iwa Garniwa Mulyana K., M.T., IPU., ASEAN Eng., APEC Eng., mengatakan ENERGI+ bukan sekadar identitas baru, melainkan nilai yang harus dihidupkan dalam setiap aktivitas akademik maupun nonakademik.
“Apakah itu yang disebut transformasi budaya? Kita sebut namanya ENERGI+. Ini adalah karakter dan semangat yang dibutuhkan dalam menghadapi tantangan zaman serta sesuai dengan visi dan misi Institut Teknologi PLN,” ujar Iwa saat peluncuran ENERGI+, Jum’at, 19 Juni 2026.
Menurut dia, ENERGI+ merupakan akronim dari enam nilai utama yang menjadi fondasi budaya organisasi ITPLN.
Huruf E mewakili Ethics atau etika, yang menekankan pentingnya kejujuran, disiplin, integritas, amanah, keluhuran budi, serta penerapan budaya 5S dalam setiap perilaku.
Selanjutnya, N berarti Nationalis, yakni semangat mengabdi kepada bangsa melalui pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
“Sebagai rakyat Indonesia, kita harus memiliki rasa bangga sebagai bangsa Indonesia dan mengabdikan ilmu serta teknologi untuk bangsa,” katanya.
Nilai berikutnya adalah E untuk Excellent, yang mencerminkan komitmen terhadap keunggulan, kebebasan akademik, dan profesionalisme dalam menghasilkan karya terbaik.
Sementara itu, R berarti Responsive atau responsif terhadap perubahan dan tantangan zaman yang semakin dinamis.
Adapun G mewakili Global, yaitu memiliki wawasan internasional, mampu berperan dalam perkembangan ilmu dan teknologi dunia, serta menjalin kolaborasi lintas negara tanpa meninggalkan jati diri bangsa.
Terakhir, I adalah Innovative, yakni semangat belajar yang kreatif, adaptif, visioner, dan berorientasi pada riset untuk menghasilkan solusi berkelanjutan serta ramah lingkungan bagi masyarakat.
“Semua ini sesuai dengan visi ITPLN menjadi perguruan tinggi berkelas internasional dan unggul di bidang energi serta penerapan teknologi berwawasan lingkungan,” tegasnya.
Tiga Kunci Implementasi ENERGI+
Prof. Iwa menegaskan transformasi budaya tidak akan berhasil tanpa implementasi nyata. Karena itu, ia mengajak seluruh sivitas akademika menjalankan tiga langkah utama.
Pertama, mengajar dengan hati, dengan menempatkan mahasiswa sebagai mitra dalam proses pembelajaran dan pengembangan akademik.
Kedua, menguatkan riset yang relevan dengan kebutuhan masyarakat dan perkembangan zaman.
“Lihatlah ke luar, bacalah literatur, pahami situasi nasional maupun internasional sehingga riset yang dilakukan benar-benar mampu menyelesaikan persoalan,” imbuhnya.
Ketiga, membangun sinergi dan kolaborasi baik di tingkat internal, nasional, maupun internasional.
“Tanpa sinergi dan kolaborasi kita akan berjalan sendiri-sendiri. Ketika kolaborasi dibangun, transformasi budaya akan terjadi lebih cepat dan lebih baik,” kata Iwa.
Ia mengingatkan agar ENERGI+ tidak berhenti sebagai jargon institusi. Dengan tegas, Iwa mengundang seluruh keluarga besar ITPLN untuk menjadikan ENERGI+ sebagai spirit bersama.
“Jangan sampai ini hanya menjadi slogan, tetapi menjadi janji yang terus kita hidupkan setiap hari. Jadikan ENERGI+ sebagai kompas untuk membawa ITPLN menjadi perguruan tinggi berkelas internasional,” tegasnya.
Energi bagi Negeri
Senada dengan itu, Ketua Umum YPK PLN Supriyadi menilai ENERGI+ merupakan semangat baru yang harus diwujudkan dalam budaya kerja seluruh insan ITPLN.
“ENERGI+ bukan sekadar slogan atau formalitas. ENERGI+ adalah semangat yang berisi nilai etika, nasionalis, excellent, responsif, global, dan inovatif,” kata Supriyadi.
Menurut dia, budaya tersebut mendorong seluruh sivitas akademika untuk selalu bekerja melampaui standar.
“ENERGI+ mengajarkan kita untuk selalu berada di atas standar dan di atas rata-rata. ENERGI+ memberikan energi bagi negeri,” ucapnya.
Luncurkan Sistem Manajemen Aset Digital
Pada kesempatan yang sama, ITPLN juga melakukan soft launching SIMA (Sistem Manajemen Aset) sebagai bagian dari transformasi tata kelola kampus berbasis digital.
SIMA digunakan untuk mengelola seluruh aset kampus, mulai dari fasilitas umum hingga peralatan laboratorium secara terintegrasi melalui aplikasi digital. Sistem tersebut dikembangkan mengacu pada standar ISO 55001:2024 untuk memastikan pengelolaan aset yang lebih efektif, akuntabel, dan proporsional.
Melalui peluncuran ENERGI+ dan SIMA, ITPLN menegaskan komitmennya memperkuat budaya organisasi sekaligus meningkatkan tata kelola institusi guna mendukung target menjadi perguruan tinggi unggul dan berdaya saing global.***