JAKARTA — Institut Teknologi PLN (ITPLN) kian aktif mengambil peran dalam pengembangan teknologi nuklir, khususnya Small Modular Reactor (SMR), terutama dalam penyiapan sumber daya manusia (SDM), riset dan edukasi sebagai bagian dari transisi energi nasional. Komitmen itu ditegaskan Rektor ITPLN, Prof. Iwa Garniwa dalam forum trilateral Indonesia–Amerika Serikat–Jepang yang membahas pemanfaatan SMR secara bertanggung jawab.
Dalam forum yang dihadiri Association for Overseas Technical Cooperation and Sustainable Partnerships (AOTS), Japan International Cooperation Center (JICC), Japan Atomic Industrial Forum (JAIF), Kementerian Ekonomi, Perdagangan, dan Industri Jepang (METI), Foundation Infrastructure for Responsible Use For SMR Technology (FIRST), hingga Departemen Luar Negeri AS tersebut, Prof. Iwa menegaskan bahwa Indonesia tengah memasuki fase strategis menuju pemanfaatan energi nuklir. Pada tahap ini, penguatan sumber daya manusia dan kesiapan ekosistem pendukung menjadi kunci utama.
“Indonesia sedang menyiapkan diri menuju implementasi pembangkit listrik tenaga nuklir. Penguatan kapasitas SDM dan ekosistem pendukung menjadi prioritas utama, dan ITPLN berkomitmen berkontribusi melalui pendidikan, riset, serta pengembangan kapasitas,” ujar Prof. Iwa Garniwa dalam keterangannya, Rabu, 4 Maret 2026.
Sebagai institusi pendidikan tinggi yang berfokus pada sektor energi, ITPLN membentuk Global Institute for Nuclear Energy and Sustainable Development (GINEST). Lembaga ini dipimpin Agus Puji Prasetyono, Anggota Dewan Energi Nasional dan difokuskan pada pengembangan talenta nuklir, riset teknologi nuklir, serta dukungan terhadap pembangunan energi berkelanjutan.
Menurut Prof. Iwa, GINEST juga diarahkan untuk memastikan proyek nuklir memberikan dampak ekonomi nyata bagi masyarakat sekitar, terutama melalui keterlibatan rantai pasok lokal dan layanan teknis di sekitar lokasi pembangkit.
GINEST mengembangkan program pelatihan bersertifikasi, riset bahan bakar dan limbah nuklir, serta menyiapkan operator dan insinyur keselamatan berlisensi. Upaya ini sejalan dengan target nasional menyiapkan sekitar 5.000 tenaga profesional nuklir hingga 2045. Pemanfaatan digital twin laboratory dan kerja sama internasional diharapkan dapat mengurangi ketergantungan terhadap teknologi dan tenaga ahli asing.
Kolaborasi internasional menjadi salah satu pilar utama. Melalui Japan–US Training Program on Responsible Use of SMR Technology for Indonesia, delegasi ITPLN mendapatkan paparan langsung terkait standar keselamatan global, praktik regulasi, hingga lingkungan operasional pembangkit nuklir.
“Pengalaman internasional ini penting untuk membangun budaya keselamatan dan meningkatkan kepercayaan publik terhadap pengembangan energi nuklir di Indonesia,” kata Prof. Iwa.
Sebelumnya, lima delegasi ITPLN dinyatakan lulus dan meraih sertifikat internasional usai mengikuti program pelatihan tersebut. Mereka merupakan bagian dari 13 perwakilan Indonesia yang mengikuti pelatihan pemanfaatan teknologi SMR secara bertanggung jawab.
Kelima delegasi itu adalah Prof. Iwa Garniwa, Ketua GINEST Agus Puji Prasetyono, Sekretaris Jenderal GINEST Nadia Paramita, Pembina GINEST Prof. Syamsir Abduh, serta Tim Ahli GINEST Tarwaji Warso.
Seluruh delegasi ITPLN memperoleh sertifikat dari Association for Overseas Technical Cooperation and Sustainable Partnerships (AOTS) Jepang. Mereka juga berkesempatan melihat langsung proses konversi energi nuklir menjadi listrik di Japan Nuclear Energy Plant, termasuk memasuki area reaktor dengan standar keamanan tinggi.
Ke depan, ITPLN menargetkan perluasan keterlibatan masyarakat melalui program vokasi, peningkatan keterampilan, serta kemitraan dengan asosiasi industri. Langkah ini diharapkan memastikan pengembangan nuklir tidak hanya memperkuat ketahanan energi nasional, tetapi juga mendorong kemajuan sosial dan ekonomi yang lebih luas.***