Hadirkan Pakar Sistem Tenaga Listrik Inggris, ITPLN Bongkar Tantangan Transisi Energi Global

  • Comments: 0
  • Posted by: Humas

JAKARTA – Institut Teknologi PLN (ITPLN) menggelar International Guest Lecture bertajuk Power System Energy Transition & Renewable Energy Integration dengan menghadirkan pakar sistem tenaga listrik asal Inggris, Dr. Cüneyt Süheyl Özveren.

Kuliah tamu internasional tersebut dibuka langsung oleh Wakil Rektor I ITPLN, Prof. Dr. Susy Fatena Rostiyanti. Dalam sambutannya, Susy menegaskan bahwa transisi energi bukan lagi isu masa depan, melainkan proses yang sedang berlangsung dan menuntut kesiapan sumber daya manusia lintas disiplin.

“Transisi sistem tenaga dan integrasi energi terbarukan bukan hanya kompleks secara teknis, tetapi juga strategis bagi masa depan energi, ekonomi, dan keberlanjutan planet kita,” ujar Susy saat membuka acara di kampus ITPLN, Jum’at, 27 Februari 2026.

Menurut dia, sistem energi global tengah mengalami perubahan struktural, dari pembangkit terpusat berbasis fosil menuju sumber energi terdistribusi seperti surya, angin, hidro, hingga sistem penyimpanan energi. Perubahan tersebut, kata Susy, membutuhkan pemikiran sistemik, fondasi analitik yang kuat, serta keahlian interdisipliner.

Susy menekankan, kuliah tamu internasional ini tidak hanya relevan bagi mahasiswa dan dosen di bidang energi, tetapi juga penting bagi sivitas akademika lintas fakultas di ITPLN. Ia menyebut target ITPLN menuju net zero emission dalam dua dekade mendatang menuntut kontribusi riset, inovasi teknologi, hingga kebijakan energi yang terintegrasi.

“Kami berharap forum ini menjadi ruang pertukaran gagasan, kolaborasi riset, serta pengembangan inovasi di bidang energi terbarukan, integrasi sistem, dan smart grid,” katanya.

Sementara itu, Dr. Cüneyt Süheyl Özveren dalam pemaparannya menyoroti tantangan stabilitas sistem kelistrikan di era dominasi energi terbarukan. Ia menjelaskan bahwa sistem tenaga masa depan akan menghadapi waktu respons yang jauh lebih singkat dibandingkan sistem berbasis pembangkit termal konvensional.

“Jika sebelumnya sistem memiliki waktu respons sekitar lima detik, ke depan bisa turun hingga 0,4 detik, bahkan 0,2 detik pada sistem tertentu. Ini menuntut cara berpikir dan alat perencanaan yang benar-benar baru,” ujar Süheyl.

Ia juga mengaitkan isu transisi energi dengan tantangan global energy–water–food trilemma. Menurutnya, meningkatnya kebutuhan listrik, air, dan pangan dunia—termasuk di Indonesia—harus direncanakan secara terintegrasi agar tidak saling menekan sumber daya yang terbatas.

Dalam konteks Indonesia, Süheyl menilai tingkat elektrifikasi nasional yang telah mencapai 97 persen masih menyisakan persoalan keandalan pasokan, terutama di wilayah kepulauan dan daerah terluar. Ia menyebut potensi hidro Indonesia yang besar, namun belum dimanfaatkan secara optimal, sebagai peluang sekaligus tantangan karena keterkaitannya dengan kebutuhan air dan pangan.

Kuliah tamu internasional ini diikuti mahasiswa, dosen, serta praktisi ketenagalistrikan. ITPLN berharap kegiatan tersebut dapat memperkaya perspektif akademik dan praktis, sekaligus menyiapkan generasi insinyur energi menghadapi sistem kelistrikan masa depan yang semakin kompleks dan berbasis energi bersih.***

Author: Humas