Bidik Revenue Horizontal Rp80 Miliar, ITPLN Siapkan Strategi di Proyek Transisi Energi

  • Comments: 0
  • Posted by: Humas

JAKARTA — Institut Teknologi PLN (ITPLN) memancang target ambisius pendapatan horizontal hingga lebih dari Rp80 miliar pada 2026. Target ini akan dikejar melalui penguatan proyek transisi energi, optimalisasi peran dosen, serta pembukaan sumber pendapatan nonvertikal dan horizontal di luar jalur akademik konvensional.

Hal ini terungkap dalam Focus Group Discussion (FGD) Analisis dan Strategi Eksekusi Beyond 80 M and Value Creation Kerja Sama dan Usaha Tahun 2026. Rektor ITPLN, Prof. Dr. Ir. Iwa Garniwa Mulyana Kartawidjaja, M.T., IPU, ASEAN.Eng. menegaskan pentingnya perencanaan yang terukur dalam pengembangan kampus, khususnya dalam membangun kolaborasi dengan industri.

“Yang harus kita biasakan adalah membuat rencana yang terukur. Jangan rencana yang tidak ada ukurannya. Kalau bahasa Sundanya kumaha engke, itu tidak bisa,” ujar Prof. Iwa di Jakarta, Rabu, 28 Januari 2026.

Ia menyinggung pengalamannya saat berdiskusi dengan Direktur Legal and Human Capital (LHC) PLN, Yusuf Didi Setiarto. Dalam pertemuan ini, terungkap target pendapatan horizontal ITPLN 2026 harus lebih dari Rp80 miliar. Alih-alih melihatnya sebagai beban, Prof. Iwa justru memaknainya sebagai peluang.

“Waktu itu saya ingat betul, ditanya targetnya berapa, jawabannya 80 miliar. Lalu Pak Didi merespons, ‘kok cuma segitu?’ Bagi saya itu bukan beban, tapi opportunity. Itu sinyal bahwa akan ada dukungan, tentu dengan catatan kita sudah berusaha maksimal,” katanya.

Menurut Prof. Iwa, ukuran yang jelas menjadi kunci agar sebuah institusi tahu kapan harus bergerak mandiri dan kapan perlu meminta dukungan. Lebih lanjut, Prof. Iwa menekankan pentingnya link and match antara perguruan tinggi dan industri. Ia mengaku sejak awal karier akademiknya konsisten mendorong keterhubungan kampus dengan dunia nyata.

“Saya dari dulu dikenal sebagai dosen proyekan. Saya percaya perguruan tinggi tidak bisa jalan sendiri. Industri juga tidak akan menunggu. Kita yang harus menyesuaikan,” kata Prof. Iwa.

Ia mencontohkan pengalaman di Jerman, di mana banyak profesor juga terlibat langsung sebagai pelaku industri. “Di sana, profesor itu sekaligus pelaku usaha. Itu yang membuat riset dan pengajaran sangat kontekstual dengan kebutuhan nyata,” imbuhnya.

Menurut Prof. Iwa, keterlibatan dosen dalam proyek industri bukan semata soal pendanaan. Lebih dari itu, proyek menjadi sarana pembelajaran nyata bagi dosen dan mahasiswa. Hal ini sejalan dengan visi ITPLN, yakni menjadi perguruan tinggi kelas internasional, unggul di bidang energi dan teknologi berwawasan lingkungan.

Ia juga menyinggung kewajiban dosen dalam menjalankan Tri Dharma Perguruan Tinggi secara utuh. “Kalau hanya mau mengajar saja, ya jadi guru. Kalau jadi dosen, riset dan pengabdian juga melekat. Tidak bisa pilih-pilih,” ucapnya lugas.

Wakil Rektor IV Bidang Kerja Sama dan Usaha ITPLN, Dr. Ir. M. Ahsin Sidqi, M.M., IPU., ASEAN Eng., QRGP, mengungkapkan, target revenue itu akan dikejar melalui penguatan proyek transisi energi, optimalisasi peran dosen, serta pembukaan sumber pendapatan nonvertikal dan horizontal di luar jalur akademik konvensional. Strategi tersebut, lanjutnya, dirancang untuk memperkuat posisi ITPLN sebagai perguruan tinggi idaman yang melahirkan lulusan ahli transisi energi.

“ITPLN harus menjadi rumah besar keahlian transisi energi. Kita galang kebersamaan dengan memperkuat sinergi alami, agar tercipta value creation beyond Rp 80 miliar,” kata Ahsin.

Terlebih, jelasnya, ITPLN memiliki Lembaga Terapan, Training Center hingga Badan Usaha dan Inkubasi Bisnis (BUIB). Ketiga entitas ini akan saling bersinergi untuk menjadikan kampus transisi energi agar mampu meraih pendapatan secara lancar.

 

Dosen Jadi Kunci

Dalam skema penguatan sistem, ungkap Ahsin, ITPLN juga menempatkan dosen sebagai pengajar dan ahli. Setiap dosen akan dilibatkan secara aktif dalam proyek teknik, penelitian, dan pelatihan yang berdampak langsung pada peningkatan kapabilitas sumber daya manusia (SDM).

“Dosen memang pengajar, tapi untuk jadi universitas hebat, dosen harus naik kelas sebagai ahli. Keahlian itu dibuktikan lewat proyek,” kata Ahsin.

ITPLN sedang merancang kebijakan penugasan mandatori agar setiap dosen minimal setahun sekali terlibat dalam proyek keahlian. Skema ini diharapkan mendorong kenaikan jabatan fungsional, reputasi individu, dan peringkat universitas.

Bangun Pusat Riset untuk Mesin Pendapatan

Saat ini, ITPLN memiliki 11 research center yang dinilai siap menjadi penggerak capacity building hingga mesin monetisasi. Pusat riset ini, tegasnya, mampu menghasilkan rata-rata Rp 10 miliar per tahun.

Terlebih, ungkap Ahsin, ITPLN telah memiliki agenda besar seperti Seminar internasional bersama JAIF International Cooperation Center, Pendampingan proyek waste to energy (WTE) dengan Pemprov DKI, Tangerang hingga Kendal. Juga ada Seminar Internasional Virtual Power Plant, ICATEI sertla lainnya.

“Reputasi para profesor dan peneliti kita kuat. Sudah ada kegiatan yang kalau dimonetisasi nilainya miliaran,” ucap Ahsin.***

Author: Humas