JAKARTA – Nada-nada lawas khas era 1990-an bergema di kawasan kampus Institut Teknologi PLN (ITPLN), Cengkareng, Jakarta Barat, akhir pekan kemarin. Bukan sekadar konser kampus biasa, Music For Free (MFF) yang digelar Korps Musik (Komus) ITPLN kali ini menjadi ruang temu antara nostalgia, regenerasi organisasi, dan mimpi besar ekosistem musik kampus.
Mengusung tema “Back to 90’s”, MFF menghadirkan warna musik yang lekat dengan karakter kuat—jujur, mentah, dan emosional. Lagu-lagu yang dibawakan memang tak melulu berasal dari dekade 90-an. Namun, nuansa musik era tersebut tetap menjadi benang merah, bahkan pada repertoar lagu-lagu yang lebih baru.
“Era 90-an itu punya roh yang kuat. Kami ingin menghadirkan kembali semangat itu, sekaligus membuktikan bahwa musik dengan karakter seperti ini tetap relevan lintas generasi,” ujar Ketua Pelaksana Music For Free ITPLN, Soni Fadjar, saat berbincang, Jum’at, 23 Januari 2026.
Tak hanya menjadi panggung hiburan, Music For Free juga dirangkai dengan agenda sakral pelantikan Golongan 15 Komus ITPLN. Prosesi formal digelar sejak sore hingga pukul 18.00 WIB, menjadi simbol estafet kepengurusan dan regenerasi komunitas musik kampus tersebut. Selepas itu, suasana beralih. Lampu panggung menyala, dan festival musik dimulai pukul 18.40 hingga 21.00 WIB.
Sebagai bagian dari strategi promosi kampus, panitia turut mengundang siswa SMA dari sekolah-sekolah sekitar. Langkah ini dimaksudkan untuk memperkenalkan ITPLN sebagai kampus transisi energi yang tak hanya fokus pada akademik, tetapi juga memberi ruang luas bagi minat dan bakat mahasiswa.
“Kami ingin adik-adik SMA melihat langsung bahwa ITPLN itu hidup. Ada ruang berekspresi, ada komunitas, ada musik,” kata Soni.
Pada gelaran kali ini, Komus ITPLN juga berkolaborasi dengan Band The Jark asal Tangerang. Kolaborasi tersebut menjadi pintu awal perluasan jejaring komunitas musik, sekaligus sinyal bahwa Komus tak ingin berhenti sebagai unit kegiatan internal kampus semata.
Ke depan, Komus ITPLN menaruh mimpi lebih besar. Nama-nama musisi ibu kota seperti Hindia dan Perunggu disebut sebagai harapan yang ingin diwujudkan suatu hari nanti di lingkungan kampus.
“Pelan-pelan. Kami mulai dari kolaborasi komunitas, membangun kepercayaan, lalu bermimpi lebih besar,” ucap Soni.
Berdasarkan data panitia, puluhan penonton hadir dalam acara tersebut, terdiri dari mahasiswa ITPLN dan penikmat musik dari luar kampus. Jumlah itu mungkin belum masif, namun antusiasme penonton menjadi sinyal awal bahwa Music For Free memiliki potensi untuk tumbuh.
Melalui MFF, Komus ITPLN berharap dapat terus menjadi wadah ekspresi dan kolaborasi mahasiswa, sekaligus mendapatkan dukungan lebih luas dari pihak kampus untuk menggelar acara musik berskala lebih besar di masa mendatang. Di kampus transisi energi ini, musik tampaknya juga sedang berproses menuju fase baru.***