Dongkrak Pembangkit EBT, ITPLN Siap Turun Langsung Garap PLTMH di RUPTL 2025–2034

  • Comments: 0
  • Posted by: Humas

JAKARTAPT PLN (Persero) mendorong Institut Teknologi PLN (ITPLN) berperan aktif mengeksekusi program energi baru terbarukan (EBT), khususnya Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH), yang tercantum dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034.

Dorongan itu disampaikan dalam pertemuan silaturahmi antara Rektor ITPLN Prof. Iwa Garniwa dan Direktur Legal and Human Capital (LHC) PLN, Yusuf Didi Setiarto.

“ITPLN, sebagai kampus transisi energi harus terus meningkatkan kapabilitas dan keahlian sumber daya manusia di bidang EBT. Sebab, kebutuhan tenaga ahli, khususnya untuk pengembangan PLTMH, akan terus meningkat seiring percepatan transisi energi nasional,” ujar Didi di Jakarta, Senin, 29 Desember 2025.

Menanggapi hal itu, Prof. Iwa Garniwa menyatakan ITPLN siap mengambil peran strategis. Ia mengatakan ITPLN telah memiliki sejumlah tenaga ahli yang kompeten di bidang rekayasa (engineering) EBT, termasuk PLTMH, yang dapat langsung terlibat dalam proyek-proyek PLN.

“ITPLN tidak hanya menyiapkan SDM, tetapi juga siap terlibat langsung dalam proses engineering EBT dan PLTMH sesuai kebutuhan PLN,” kata Pror. Iwa Garniwa.

Diakuinya, kebutuhan tenaga kerja ramah lingkungan atau green jobs di sektor energi terbarukan diproyeksikan terus meningkat seiring transisi energi nasional. Menurutnya, sektor EBT menjadi penyerap utama green jobs di Indonesia dalam beberapa tahun ke depan.

“Transisi energi bukan hanya soal teknologi, tetapi juga kesiapan sumber daya manusia. Green jobs akan menjadi tulang punggung pembangunan energi berkelanjutan,” katanya.

Menurut Prof. Iwa, green jobs di sektor energi terbarukan mencakup berbagai bidang, seperti tenaga surya (solar photovoltaic), energi angin, hidro, biomassa, hingga panas bumi. Profesi yang dibutuhkan antara lain solar PV engineer, PV installer, wind turbine technician, hydro engineer, hingga biogas engineer.

Tak hanya pada sisi pembangkitan, peluang kerja juga terbuka luas pada sektor efisiensi dan manajemen energi. Posisi seperti energy auditor, energy manager bersertifikasi ISO 50001, serta konsultan efisiensi energi industri kini semakin dicari, terutama oleh sektor manufaktur dan bangunan komersial.

Selain itu, perkembangan kota rendah karbon turut melahirkan kebutuhan tenaga ahli di bidang infrastruktur hijau. Profesi seperti smart grid engineer, EV charging infrastructure engineer, hingga urban sustainability planner menjadi bagian penting dari ekosistem transisi energi.

Iwa menambahkan, green jobs juga tumbuh di sektor lingkungan dan ekonomi karbon. Peran environmental engineer, analis dampak lingkungan (AMDAL), spesialis ESG, hingga akuntan karbon dan ahli perdagangan karbon dinilai krusial dalam mendukung target penurunan emisi nasional.

“Ke depan, lulusan teknik dan sains harus memiliki perspektif keberlanjutan. Bukan hanya mampu membangun sistem energi, tetapi juga memahami dampak lingkungan dan ekonomi karbon,” tuturnya.

Di lokasi yang sama, General Manager PLN Pusat Pemeliharaan Ketenagalistrikan (Pusharlis), Suroso mengungkapkan, kerja sama antara PLN Pusharlis dan ITPLN telah berjalan. Dia memastikan, Pusharlis siap menjadi manufaktur pembangkit listrik tenaga air (PLTA) hingga kapasitas 60 megawatt.

Menurut Suroso, sinergi ini penting untuk memperkuat kemampuan industri dalam negeri. Ke depan, kolaborasi antara PLN sebagai pemilik proyek, Pusharlis sebagai manufaktur, dan ITPLN sebagai engineer diharapkan mampu memastikan proyek PLTA dan PLTMH berjalan optimal.

“Kami melihat potensi PLTMH dalam RUPTL yang akan segera dibangun cukup besar dan memerlukan kerja sama berbagai pihak agar dapat dieksekusi dengan baik,” kata Suroso.

Pertemuan ini juga merupakan tindak lanjut dari nota kesepahaman (MoU) dan perjanjian kerja sama (PKS) antara ITPLN dan PLN Pusharlis yang ditandatangani pekan lalu. ITPLN memastikan, kinerja kolaboratif ini akan terus ditingkatkan dalam mengejar target transisi energi nasional.***

Author: Humas