JAKARTA – Institut Teknologi PLN (ITPLN) resmi membentuk Nuclear Youth Forum ITPLN, forum kepemudaan nuklir pertama di Indonesia. Rektor ITPLN Prof. Iwa Garniwa menegaskan, Indonesia harus berani mengambil keputusan strategis terkait teknologi nuklir, tanpa terjebak pada ketakutan berlebihan.
“ITPLN itu harus menjadi pusat kajian nuklir. Nuklir masih penuh pro dan kontra. Tapi hanya bangsa dengan mental tempe yang tidak berani menghadapi risiko,” ujar Iwa di Kampus ITPLN, Rabu, 17 Desember 2025.
Iwa mengkritik cara publik memperdebatkan risiko nuklir, padahal menurutnya pembangkit lain seperti PLTU dan infrastruktur energi fosil juga memiliki risiko kematian dan radiasi.
“Kenapa ributnya hanya soal nuklir? Kalau dibedah, PLTU risikonya juga banyak. Tangki minyak radiasinya luar biasa. Tapi kita diam saja,” tegasnya.
Iwa mengungkap rencana pembangunan pembangkit listrik tenaga nuklir tercantum dalam RUPTL 2025-2034 berkapasitas 2×250 megawatt. Ia memperkirakan setiap pembangkit akan menyerap 1.200 SDM dengan kompetensi khusus.
“ITPLN akan menjadi sumber pengisi SDM itu. Dengan mengucapkan bismillahirrahmanirrahim, Nuclear Youth Forum ini saya nyatakan dibuka,” katanya.
Dorong Generasi Z Kuasai Teknologi Nuklir
Sekretaris Jenderal Global Institute for Nuclear Energy and Sustainable Development (GINEST) ITPLN, Nadia Paramita, menegaskan bahwa mahasiswa harus aktif memahami dan mengimplementasikan teknologi nuklir—khususnya di sektor energi. Menurutnya, masyarakat sering melihat nuklir seperti sesuatu yang berbahaya. Padahal banyak manfaat, terutama untuk energi.
Ia memaparkan data RUPTL 2025-2034, ada 76 persen bauran energi nasional yang akan bergerak menuju energi baru dan terbarukan dengan nuklir berkontribusi hingga 500 MW. Menurutnya, nuklir merupakan sumber energi ramah lingkungan dan mendukung target net zero emission.
Dia juga menegaskan, GINEST ITPLN akan menyiapkan program edukasi lintas kampus dan SMA seluruh Indonesia, termasuk simulasi 500 MW pengembangan nuklir pada tahun mendatang.
“70 persen dari populasi produktif adalah Gen Z. Mereka yang akan memegang peran penting dan menjadi agen perubahan,” tegasnya.
Nuclear Youth Forum ITPLN akan menjadi forum akademik mahasiswa, ruang riset, seminar, hingga kolaborasi penelitian dosen–mahasiswa. Organisasi ini juga menargetkan pembentukan karakter kepemimpinan hingga berbagai program pemahaman publik, literasi energi dan kampanye soal nuklir ke sekolah-sekolah.
“Kami ingin membentuk agent of change. Nuklir bukan masa depan yang ditakuti, tapi teknologi yang harus dikuasai,” kata Nadia.***