“Ksatriapetir” Siap Menyongsong Transisi Energi di Era Revolusi 4.0

  • Comments: 0
  • Posted by: Humas

Dikutip dari Majalah Integritas Edisi 38 – November 2022 – Kecintaan Prof. Dr. Ir. Iwa Garniwa Mulyana, K., MT pada dunia listrik terwijud dalam tekadnya menjadikan Institut Teknologi Perusahaan Listrik Negara (ITPLN) menjadi perguruan tinggi yang berkelas Internasional, modern, mandiri, unggul di bidang energi dan teknologi berwawasan lingkungan dalam menyongsong masa depan Revolusi 4.0 dan Transisi Energi. Kepada Majalah Integritas, pria yang akrab disapa Prof. Iwa ini memaparkan strategi yang dilakukan ITPLN untuk memperkuat “Ksatria Petir” sebagai julukan dan identitas bagi 3500 mahasiswanya agar menjadi mahasiswa yang unggul di era digitalisasi. Beragam masalah kelistrikan di Indonesia juga dikupas secara mendalam dan komprehensif.

Satu ciri dari ITPLN yang tidak dimiliki oleh perguruan tinggi lainnya, yaitu ITPLN memiliki empat fakultas sebagai adaptasi terhadap transisi energi dunia dari perubahan energi berbasis fosil menuju energi nonfosil di era digitalisasi. Fakultas tersebut adalah Fakultas Ketenagalistrikan dan Energi Terbarukan, Fakultas Telematika Energi, Fakultas Teknologi dan Bisnis Energi, dan Fakultas Teknologi Infrastruktur. Yang selanjutnya dikembangkan kurikulum dan silabusnya oleh program studi di bawah Fakultas tersebut.

“Inilah strategi kami, yaitu bertransformasi dalam menyongsong Revolusi 4.0 di era transisi energi,” kata Prof. Iwa.

Tak hanya membekali mahasiswa dengan ilmu akademis, Prof. Iwa juga mendorong agar mahasiswa untuk meningkatkan kegiatan non-akademis dan mengejar prestasi di bidang masingmasing. Sedangkan dosen didorong untuk memiliki mindset Tri Darma Perguruan Tinggi yang mendalam, bahwa ada tugas yang harus dilakukan segenap sivitas akademika, antara lain Pengajaran, Penelitian, dan  pengabdian ke masyarakat.

“Mungkin mudah untuk dikatakan, tapi di sinilah tantangannya untuk mengubah mindset berpikir sivitas akademika,” kata Prof. Iwa.

Dia mengingatkan, mahasiswa dan dosen harus mau terjun langsung ke masyarakat untuk mengaplikasikan ilmu yang didapat meski kadang dana kurang.

Riset-riset kami mengarah pada riset terapan, kami mencoba mencari peluang menggunakan teknologi yang ada sehingga masyarakat di desa-desa mendapat listrik dengan relatif terjangkau,” kata Prof. Iwa.

Tri Darma Perguruan Tinggi

Demikian juga halnya dengan penelitian, para mahasiswa dan dosen arus melakukan penelitian meski yang didanai oleh anggaran internal kampus itu sendiri, disamping dana-dana hibah lainnya dari eksternal, para dosen jangan terjebak hanya dalam pengajaran saja, tetapi konsisten menjalankan Tri Darma Perguruan Tinggi.

“Untuk wilayah-wilayah desa yang sulit terjangkau listrik, kami mencari peluang-peluang agar desa tadi mendapat listrik yang relatif terjangkau, untuk itu kami ada dana pengabdian untuk hal seperti itu, walau terbatas,” kata Prof. Iwa.

Demikian juga ITPLN berusaha mengelola keuangan internal kampus agar cukup untuk mendanai riset penelitian para dosen yang berjumlah 160 orang dan sekitar 3.500 mahasiswa. Karena berdasarkan pengalamannya, tidak mudah untuk mencari dana riset dari luar.

“Dan kini saya merasakan sejak diterapkan program peningkatan dana riset, hasilnya produk penelitian dosen semankin meningkat jauh lebih baik. Bila dulu ada peringkat penelitian di ranking 1000-an, sekarang sudah meningkat di ranking dua ratusanlah,” kata dia.

Meski Prof. Iwa mengaku sebenarnya dana riset di Indonesia tidak pernah cukup apalagi bila dibandingkan seperti di negara maju seperti Korea Selatan.

“Namun, kita sudah ada peningkatan,” kata dia

ITPLN saat ini juga mendapat dana riset untuk melakukan penelitian untuk membuat kendaraan berbasis listrik mulai dari roda dua, roda tiga sampai roda empat. Bahkan mahasiswa juga membuat e-Formula. ITPLN juga mendukung program pemerintah mengkonversikan sekitar 114 juta motor berbahan bakar BBM menjadi motor listrik dengan rencana membangun Bengkel konversi.

“Jadi kami sudah bisa lakukan, dan kami sudah membangun workshop dan lab untuk penelitian dan perakitan dan kami juga mempersiapkan pelatihan bersertifikat khusus kendaraan listrik,” kata Prof. Iwa.

Sementara itu, dalam menanggapi kondisi perlistrikan di Indonesia, Prof. Iwa melihat PLN yang saat ini sedang dalam masa over capacity, khususnya di Jawa dengan lebih 30 persen mempunyai tantangan untuk meningkatkan pertumbuhan listrik dengan mendorong pengembangan kendaraan listrik dan juga kompor listrik.

“Ini bisa membuat kita bertahan untuk ke depannya,” kata Prof. Iwa.

Sekalipun begitu, PLN harus mewaspadai kemungkinan terjadinya masalah keuangan pada PLN karena banyaknya kontrak yang dilakukan PLN terhadap swasta yang bersifat Take or Pay padahal beban pemakaian listrik masih begitu-begitu saja.

“Sebagian besar sudah kadung kontrak dengan swasta dengan cara take or pay, pakai tidak dipakai, PLN harus bayar. Ini akan jadi menjadi masalah keuangan kalau ini tidak diselesaikan, walau katanya tahun ini akan dapat keuntungan PLN meningkat,” papar dia.

Salah satu masalah lainnya yang perlu menjadi perhatian pemerintah menurut Prof. Iwa adalah keberpihakan Pemerintah terhadap masalah kebutuhan batubara dalam negeri harus ditingkatkan karena bagaimanapun PLTU batabara saat ini masih menjadi pasokan listrik terbesar. Kewajiban produsen batubara swasta terhadap pasokan batubara ke PLN harus dijaga. Prof. Iwa menyadari tidak mudah untuk mendapatkan perusahaan swasta yang berjiwa “nasionalis” bila dihadapkan dengan keuntungan besar di depan mata.

“Ini sebenarnya kebijakan yang salah, batubara ini sebenarnya hajat hidup orang banyak . Tapi saat ini tambang batubara di Sumatera dimiliki oleh 95 persen pihak swasta dan hanya lima persen oleh pemerintah. Dan cilakanya 85 persen diekspor,” kata Prof. Iwa.

Kebanyakan dari perusahaan swasta itu lebih memilih mengekspor batubara ke luar negeri mengingat harganya lebih mahal, yaitu sekitar 300 dolar per ton, sementara PLN hanya beli 70 dollar per ton.

“Apakah swasta mau merugi? Pasti ga mau,” kata Prof. Iwa. Ini perlu menjadi perhatian pemerintah mengingat pembangkit listrik di Indonesia hampir 55-60 persen dari batubara. Pemerintah harus tegas terhadap pengusaha swasta ini mengingat mereka sebenarnya sudah melanggar aturan Domestic Market Obligation, yaitu kewajiban pihak swasta untuk menyisihkan 25 persen kebutuhan dalam negeri.

Dalam hal ini, sebelumnya pemerintah telah beberapa kali mengingatkan kepada para pengusaha batubara untuk memenuhi komitmennya dalam memasok batu bara ke PLN. Namun, realisasinya pasokan batubara setiap bulan ke PLN di bawah kewajiban persentase penjualan batubara untuk kebutuhan dalam negeri.

“Mereka memang kena penalti, tapi penaltinya lebih murah dari keuntungan yang didapat, jadi ya mereka langgar aja,” tambah Prof. Iwa.

Ia menyarankan agar Permen ESDM dirubah agar menguntungkan bangsa dan negara. Masalah ketahanan energi nasional harus diperkuat karena Ketika sedikit ada goncangan ekonomi sedikit saja, maka negara ini bisa goyah akibat masalah energi. Disamping itu mengingat kesenjangan antara si kaya dan miskin masih sangat tinggi maka harus menjadi perhatian pemerintah untuk meningkatkan keadilan dan tentunya pemerataan.

Kultur pengusaha swasta yang kerap mencari keuntungan sebanyak-banyaknya inilah yang menjadi alasan Prof. Iwa tidak pernah setuju jika perusahaan listrik banyak dipegang oleh swasta. Listrik merupakan kebutuhan vital dan menjadi hajat hidup orang banyak yang sangat fundamental, karena itu harus dikuasai oleh negara. Saat ini lebih dari 50 persen pembangkit listrik di Indonesia dikuasai oleh swasta atau Independent Power Producer (IPP) dan menurut Prof.Iwa ini membahayakan.

“Seharusnya hanya 25 persen saja yang bisa dikuasai swasta,” katanya. Ia khawatir ketika terjadi goncangan ekonomi maka swasta tidak akan mau merugi dengan menurunkan harga kepada masyarakat. Seharusnya Indonesia bisa belajar dari Cina dan lebih dari 95 persen pembangkit listrik dimiliki oleh pemerintah Cina dan sisanya oleh swasta.

Ketika ditanyakan tentang PLN terkesan mempersulit penggunaan panel surya sebagai penghasil listrik, Prof. Iwa menampiknya. Ia melihat PLN bukan mempersulit, melainkan menjaga kestabilan sistemnya sehingga masyarakat agar bisa menggunakan listrik dengan bijak. Bila menggunakan panel surya kita tahu bahwa matahari juga tidak selalu bersinar terik, sehingga akan terjadi turunnaik suplainya yang tentunya akan mengganggu kestabilan sistem PLN.

Selain itu, penggunaan panel surya sangat berdampak pada bisnis PLN yakni konsumsi listrik yang turun dan bisa berdampak pada penerimaan PLN dan tentunya dapat berakibat Biaya Pokok Produksi PLN meningkat. Pendapatan PLN akan berkurang padahal PLN sudah mengeluarkan investasi, akibatnya biaya produksi naik. Bila biaya produksi naik, logikanya tarif akan naik, padahal menurut ketentuan, tarif tidak boleh naik. Akibatnya pembangkit listrik PLN banyak yang berguguran padahal sudah kadung kontrak dengan swasta. Lagipula saat ini PLN sedang over capacity. “Kalau (panel surya) program pemerintah maka pemerintah harus menanggung biaya kerugian yang timbul dari kebijakannya,” kata Prof. Iwa.

Harapan Kedepan

Ke depannya, Prof. Iwa berharap pemerintah berani membangun pembangkit listrik tenaga nuklir. Saat ini diakuinya masih banyak masyarakat yang khawatir terhadap radiasi nuklir, padahal ketakutan itu menurut Prof. Iwa tidak beralasan. Ia membandingkan dengan Perancis yang memulai dengan jajak pendapat dan lebih dari 60 persen masyarakat tidak setuju, tapi pemerintah Perancis berani tetap membangun pembangkit listrik nuklir.

“Lihat sekarang bagaimana Perancis mampu ekspor listrik ke Jerman, dan bagaimana tarif listrik di Jerman meningkat dengan drastis,” kata Prof. Iwa.

Ia berharap agar pemerintah berani menjadikan nuklir sebagai energi masa depan bangsa ini. Menurut Prof. Iwa, nuklir bukan satu-satunya sumber energi, tapi mampu melengkapi sumber energi lainnya, apalagi adanya tuntutanakan energi terbarukan.

Sebelum menjadi Rektor ITPLN, sedari dulu Prof. Iwa kerap memberi masukan-masukan positif bagi PLN terkait bidang energi. Karena kevokalannya dalam hal kelistrikan, PLN membangun hubungan baik dengan Prof. Iwa. Kemudian dia diangkat menjadi Rektor ITPLN pada 2019. Sebelumnya, Prof. Iwa merupakan dosen di Universitas Indonesia dan sampai sekarang masih menjadi guru gesar di UI sejak dikukuhkan pada 2009. Bersama rekan-rekannya, Prof. Iwa mengubah STT PLN menjadi ITPLN pada tahun 2020, kurang dari setahun setelah Ia menjabat sebagai Ketua STT PLN.

Prof. Iwa lahir pada 7 Mei 1961 di Bandung, orang tua R. Ahmad Mulyana Kartadinata dan R. Astiasih. Anak kedelapan dari sembilan bersaudara. Ia masuk Fakultas Teknik Universitas Indonesia, Jurusan Elektro bidang studi Tenaga Listrik pada 1981. Setelah lulus pada 1987, ia bekerja di PT Bukaka Teknik Utama sebagai engineer. Pada 1989 ia mengajar Teknik Tegangan Tinggi di Jurusan Elektro sebagai asisten Prof. Dr. Ir. A. Arismunandar. Ia sempat bekerja di perusahaan swasta tapi kembali lagi mengajar di kampus meski pendapatannya sangat minim.

“Saya percaya jalan hidup saya sudah diatur Yang Kuasa, jadi saya jalani saja,” ujar dia.

Salah satu tantangan terbesar yang dirasakannya ketika menjadi rektor ITPLN adalah bagaimana ia harus membangun academic environment, yaitu bagaimana menciptakan sebuah kondisi agar dosen memahami tugas untuk melaksanakan Tri Darma Perguruan Tinggi, yaitu pengajaran, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat.

“Mudah ngomongnya tapi praktiknya tidak semudah itu,” kata Prof. Iwa.

Ia mencontohkan banyak dosen hanya terjebak melakukan pangajaran ketika dana untuk penelitian tidak mencukupi.

“Tantangannya adalah mengubah mindset itu,” kata pria yang gemar bersepeda ini.

Dalam bekerja, Prof. Iwa selalu memegang prinsip untuk selalu berintegritas, komitmen dan konsisten dalam melakukan jabatan yang diemban. Ia menegaskan dirinya tetap komit membangun ITPLN meski saat ini ia masih menjadi guru besar Fakultas Teknik Elektro Universitas Indonesia. Saat ini ia sedang fokus membangun kerja sama antara ITPLN dan negara lain, seperti Turki, Slowakia, Korea, dan Malaysia.

Pada akhir wawancara, ia berpesan, bangsa ini hendaknya fokus membangun pendidikan dan menentukan arah pendidikan dengan lebih jelas.

“Perjuangan kita untuk membangun pendidikan tinggi di Indonesia masih panjang. Karena itu, harus semangat, berintegritas, berkomitmen, konsisten dan menentukan arah pendidikan dengan lebih jelas,” kata Prof. Iwa.

(Usman, Debora)

Author: Humas